ANALISIS PERSAMAAN SIMULTAN KEPEMILIKAN MANAJERIAL, KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, RISIKO, KEBIJAKAN HUTANG DAN KEBIJAKAN DIVIDEN ..

Simposium Nasiona Akuntansi 9 Padang

ANALISIS PERSAMAAN SIMULTAN KEPEMILIKAN MANAJERIAL, KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, RISIKO, KEBIJAKAN HUTANG DAN KEBIJAKAN DIVIDEN DALAM PERSPEKTIF TEORI KEAGENAN

Imanda Firmantyas Putri
Mohammad Nasir

Abstract

Agency conflict appears because of contract that is made by agent as the manager and principal as the owner of the company. Agency conflict can be reduced by releasing set of policies that is used to monitor agent as the manager of the company.
This research is analizing the relationship between managerial ownership, institutional ownership, risk, debt policy and dividend policy which are included as strategic variables in company’s policy making of Indonesian’s model market. Identification is done to examine determined variabels which related to agency theory. Investment opportunity set, free cash flow, size, profit, fixed asset, investment and value of equity is used as determined variables (exogenous variables).

This researchis focused onmanufacturing companies listed in Jakarta Stock Exchange for period 2000-2004. The method of data collection is pooling method and result 166 firm observation. The statistical method used by this research is two stage least square regression to minimize bias that is exist in ordinary least square analizing.
The result of this research shows that endogenous variables have in interdependence relationship. It is showed from fit in parameters on each variable.

Key words: Agency Theory, Managerial Ownership, Institutional Ownership, Risk, Debt Policy and Dividend Policy Investment Opportunity Set, Free Cash Flow, Size, Profit,Fixed Asset, Investment, Value of Equity.

I. PENDAHULUAN

Perusahaan dipandang sebagai sekumpulan kontrak antara manajer perusahaan dan pemegang saham. Penunjukan manajer oleh pemegang saham untuk mengelola perusahaan dalam kenyataannya seringkali menghadapi masalah dikarenakan tujuan perusahaan berbenturan dengan tujuan pribadi manajer. Dengan kewenangan yang dimiliki, manajer bisa bertindak dengan hanya menguntungkan dirinya sendiri dan mengorbankan kepentingan para pemegang saham. Hal ini mungkin terjadi karena adanya perbedaan informasi yang dimiliki oleh keduanya. Perbedaan informasi ini disebut sebagai asymmetric information.

Pihak pemilik dapat membatasi divergensi kepentingannya dengan memberikan tingkat insentif yang layak kepada manajer dan harus bersedia mengeluarkan biaya pengawasan atau monitoring cost untuk mencegah hazard dari manajer. Biaya-biaya tersebut disebut sebagai biaya keagenan atau agency cost.

Selengkapnya bisa didownload
(klik link di bawah ini)
Link: www.ziddu.com

ANALISIS PENGARUH PERBEDAAN ANTARA LABA AKUNTANSI DAN LABA FISKAL TERHADAP PERSISTENSI LABA, AKRUAL, DAN ARUS KAS

Simposium Nasiona Akuntansi 9 Padang

ANALISIS PENGARUH PERBEDAAN ANTARA LABA AKUNTANSI DAN LABA FISKAL TERHADAP PERSISTENSI LABA, AKRUAL, DAN ARUS KAS

Handayani Tri Wijayanti
STIE Atma Bakti Surakarta

ABSTRACT

This study investigates the role of book-tax differences in indicating the persistence of earnings, accruals, and acsh flows for one-period-ahead earnings. This study also examines whether the level of book-tax differences influences investor’s assessment of future earnings persistence..

Using the earnings data from 2000-2004, the results show that firm-years with large positive book-tax differences (book income in excess of taxable income) have earnings that are less persistent than firm-years with small book-taxes differences Further, the evidence is consistent with investor interpreting with large positive book-tax differences as “red flag” and reducing their expectation of future earnings persistence.

Simposium Nasiona Akuntansi 9 Padang

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Informasi tentang laba (earnings) mempunyai peran sangat penting bagi pihak yang berkepentingan terhadap suatu perusahaan. Pihak internal dan eksternal perusahaan sering menggunakan laba sebagai dasar pengambilan keputusan seperti pemberian kompensasi dan pembagian bonus kepada manajer, pengukur prestasi atau kinerja manajemen, dan dasar penentuan besarnya pengenaan pajak. Oleh karena itu kualitas laba menjadi pusat perhatian bagi investor, kreditor, pembuat kebijakan akuntansi, dan pemerintah. Laba yang berkualitas adalah laba yang dapat mencerminkan kelanjutan laba (sustainable earnings) dimasa depan, yang ditentukan oleh komponen akrual dan aliran kasnya (Penman, 2001).

Beberapa peneliti kualitas laba telah memusatkan perhatiannya pada selisih antara laba akuntansi dan laba fiskal (Patrick, 2001; Desai, 2002; Manzon dan Plesko, 2002; Mills et al., 2002 dalam Nissim et al., 2004). Mereka berpendapat bahwa perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal (book-tax differences) dapat memberikan informasi mengenai kualitas laba. Logika yang mendasarinya adalah adanya sedikit kebebasan akuntansi yang diperbolehkan dalam pengukuran laba fiskal sehingga perbedaan antara laba akuntansi dan laba fiskal (book-tax differences) dapat memberikan informasi tentang management discretion dalam proses akrual. Seida (2003) dalam Hanlon (2005) juga menyatakan bahwa laba fiskal dapat digunakan sebagai benchmark untuk mengevaluasi laba akuntansi.

Selengkapnya bisa didownload
(klik link di bawah ini)
Link: www.ziddu.com

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KECENDERUNGAN KECURANGAN AKUNTANSI

Simposium Nasiona Akuntansi 9 Padang
Padang, 23-26 Agustus 2006 21

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP KECENDERUNGAN KECURANGAN AKUNTANSI: STUDI PADA PERUSAHAAN PUBLIK DAN BADAN USAHA MILIK NEGARA DI INDONESIA

Wilopo
STIE Perbanas – Surabaya

ABSTRACT

The accounting fraud is frequent, widespread and familiar in many countries and organization. It brings a loss to firms and investors. But there is no research trying to explain factors comprehensively influencing it. The obyectives of the research are to test and explain the effect of the internal control effectiveness, suitability of reward, compliance to accounting rules, information asymmetry, management morality toward unethical behavior and intention to accounting fraud. More particularly, the research attempts to get the causal relationship between the variables involved. Questionnaire was used to collect data. The analysis unit was the company. The research population was 477 companies consisting of public companies and state owned companies in Indonesia. The research samples were one hundred and fifty three companies. The research respondents were directors or managers responsible to prepare financial statements. Structural Equation Modeling was used to test the hypotesis. The findings of the research showed that internal control effectiveness, compliance to accounting rules, information asymmetry, and management morality affected unethical behavior and intention to accounting fraud significantly. But the research showed that suitability of the reward did not affect management unethical behavior and intention to accounting fraud. The findings of the study provided an input to develop comprehensive research about good governance and corruption. It is also suggested to add more comprehensive research model by adding more variables (e.g. laws, politics, and social aspects) and to develop the research in government institution and non profit organization.
Keywords: intention to accounting fraud, unethical behavior, agency theory

Simposium Nasiona Akuntansi 9 Padang

1. Pendahuluan

Kecurangan akuntansi telah berkembang di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Di USA kecurangan akuntansi telah berkembang secara luas (Sobel, 1977: 1). Spathis (2002) menjelaskan bahwa di USA kecurangan akuntansi menimbulkan kerugian yang sangat besar di hampir seluruh industri. Kerugian dari kecurangan akuntansi di pasar modal adalah menurunnya akuntabilitas manajemen (Pritchard, 1999) membuat para pemegang saham meningkatkan biaya monitoring terhadap manajemen. Umumnya, kecurangan akuntansi berkaitan dengan korupsi. Dalam korupsi, tindakan yang lazim dilakukan di antaranya adalah memanipulasi pencatatan, penghilangan dokumen, dan mark-up yang merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Tindakan ini merupakan bentuk kecurangan akuntansi.

Indonesia termasuk negara dengan peringkat korupsi tertinggi di dunia (Transparancy International, 2005). Di Indonesia, kecurangan akuntansi dibuktikan dengan adanya likuidasi beberapa bank, diajukannya manajemen BUMN dan swasta ke pengadilan, kasus kejahatan perbankan, manipulasi pajak, korupsi di komisi penyelenggara pemilu, dan DPRD. Meski kecurangan akuntansi diduga sudah menahun, namun di Indonesia belum terdapat kajian teoritis dan empiris secara komprehensif. Oleh karenanya fenomena ini tidak cukup hanya dikaji oleh ilmu akuntansi, tetapi perlu melibatkan disiplin ilmu yang lain.

Selengkapnya bisa didownload
(klik link di bawah ini)
Link: www.ziddu.com

ANALISA KARAKTERISTIK PERUSAHAAN, INDUSTRI DAN EKONOMI MAKRO TERHADAP RETURN DAN BETA SAHAM SYARIAH DI BURSA EFEK JAKARTA

Simposium Nasiona Akuntansi 9 Padang

Padang, 23-26 Agustus 2006

ANALISA KARAKTERISTIK PERUSAHAAN, INDUSTRI DAN EKONOMI MAKRO TERHADAP RETURN DAN BETA SAHAM SYARIAH DI BURSA EFEK JAKARTA

Robiatul Auliyah
Ardi Hamzah
Universitas Trunojoyo

ABSTRACT

The purpose of this study are to know effect variables of firm characteristic, industry and macro economic on return and beta of syariah stock. The sample of the study are firms listed in Jakarta Islamic Index in 2001 – 2005. Sample total is 150 firm sample. The result of study with F test between all variable with return of syariah stock indicate that all variable at level 5% no significant effect on syariah stock return, while with beta of syariah stock indicate that all variable at level 5% significant effect on syariah stock beta.

The result of study with t-test between variables of firm characteristic, industry and macro economic with return of stock syariah indicate that nothing variables at level 5% significant effect on syariah stock return, while with beta of syariah stock indicate that cyclicality, rupiah exchange value on dollar and gross domestic bruto at level 5% significant effect on syariah stock beta.

Keyword: firm characteristic, industry, macro economy, return and beta of syariah stock

PENDAHULUAN

Perkembangan pasar modal syariah menunjukkan kemajuan seiring dengan meningkatnya indeks yang ditunjukkan dalam Jakarta Islamic Index. (JII). Peningkatan indeks pada JII walaupun nilainya tidak sebesar pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetapi kenaikan secara prosentase indeks pada JII lebih besar dari IHSG. Hal ini dikarenakan adanya konsep halal, berkah dan bertambah pada pasar modal syariah yang memperdagangkan saham syariah. Pasar modal syariah menggunakan prinsip, prosedur, asumsi, instrumentasi, dan aplikasi bersumber dari nilai epistemologi Islam.

Perdagangan beberapa jenis sekuritas, baik pada pasar modal konvensional maupun pasar modal syariah mempunyai tingkat return dan risiko yang berbeda. Saham merupakan salah satu sekuritas diantara sekuritas-sekuritas lainnya yang mempunyai tingkat risiko yang tinggi. Risiko tinggi tercermin dari ketidakpastian return yang akan diterima oleh investor di masa datang. Hal ini sejalan dengan definisi investasi menurut Sharpe bahwa investasi merupakan komitmen dana dengan jumlah yang pasti untuk mendapatkan return yang tidak pasti di masa depan. Dengan demikian, ada dua aspek yang melekat dalam suatu investasi, yaitu return yang diharapkan dan risiko tidak tercapainya return yang diharapkan. Return dan risiko secara teoritis pada berbagai sekuritas mempunyai hubungan yang positif. Semakin besar return yang diharapkan diterima, maka semakin besar risiko yang akan diperoleh, begitu pula sebaliknya. Return dan risiko yang tinggi pada saham berhubungan dengan kondisi karakteristik perusahaan, industri dan ekonomi makro.

Selengkapnya bisa didownload
(klik link di bawah ini)
Link: www.ziddu.com

ANALISA HUBUNGAN INDEX HARGA SAHAM GABUNGAN (IHSG) JAKARTA (JSX), LONDON (FTSE), TOKYO (NIKKEI) DAN SINGAPURA (SSI)


(Pendekatan Model Ekonometri – Autocorrelation Condition Heteroscedasticity (ARCH) / Generalized Autocorrelation Condition Heteroscedasticity (GARCH) Dan Vector Autoregression (VAR) – Suatu studi empiris tahun 2000 – 2005)

LUDOVICUS SENSI WONDABIO
Program Doctoral – Program Ilmu akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

ABSTRACT:


The objective of this research is to analyze the relationship between Jakarta’s Stock Price Index (JSX) and London Stock Price Index (FTSE), Tokyo Stock Price Index (NIKKEI) and Singapore Stock Price Index (SSI) using Econometric Model of Autocorrelation Condition Heteroscedasticity (ARCH) / Generalized Autocorrelation Condition Heteroscedasticity (GARCH) and Vector Autoregression (VAR) for the years 2001 – 2005. Based on the result of this research, the pattern of relationship between JSX and FTSE, NIKKEI and SSI has a difference pattern and unique characteristics. FTSE and NIKKEI have a significant impact to JSX but JSX did not have impact to FTSE and NIKKEI. This condition has approved that the developed countries has a significant impact to the economy of developing country. The relationship between JSX and SSI has a negative impact to JSX.

Key words: Stock Price Index, Capital Market, ARCH/GARCH and VAR

Data availability: Data used in this research are derived from publicly available.

1. PENDAHULUAN

Dalam abad ke 21 ini, dunia mengalami dampak globalisasi serta revolusi dalam informasi dan teknologi. Pengaruh kejadian pada belahan dunia yang satu dapat cepat berpengaruh terhadap belahan dunia lain. Dampak globalisasi dibidang ekonomi diikuti oleh adanya liberalisasi dalam bidang perekonomian. Artinya dalam pasar global saat ini, setiap investor dapat berinvestasi dimanapun dia berada (capital does not carry any flag).

Salah satu indikator keberhasilan ekonomi makro suatu negara adalah Index Harga Saham (IHSG) selain faktor tingkat bunga (interest rate), nilai tukar (exchange rate) dan GNP. Telah terbukti secara empiris bahwa variabel ekonomi makro berpengaruh signifikan terhadap return saham pada emiten yang terdaftar di BEJ (Lestari Murti, 2005). Bila kondisi ekonomi suatu negara baik maka IHSG tentunya juga menunjukkan adanya trend yang meningkat tetapi jika kondisi ekonomi suatu negara dalam keadaan turun maka akan berpengaruh juga terhadap IHSG tersebut. Dengan adanya revolusi informasi, investor dimanapun dapat mengamati IHSG pada waktu yang bersamaan. Ketika kondisi suatu negara dalam keadaan menurun maka IHSG juga akan mengalami penurunan yang berakibat investor akan keluar dari pasar (Anoraga Panji dan Pakarti Piji, 2006)


Selengkapnya bisa didownload
(klik link di bawah ini)
Link: www.ziddu.com